1 / 3

FORCLIME

 Forests and Climate Change Programme
 Technical Cooperation (TC Module)
2 / 3

FORCLIME

 Forests and Climate Change Programme
 Technical Cooperation (TC Module)
3 / 3

FORCLIME

 Forests and Climate Change Programme
 Technical Cooperation (TC Module)

2022 11 01 FGD Bioekonomi dan pelaku industri nr 2

Melanjutkan diskusi awal kajian pengembangan kebijakan nasional bioekonomi hutan di Indonesia, Bappenas melakukan serangkaian FGD untuk mendapatkan pandangan dari para pihak terkait potensi bioekonomi, salah satunya dengan para pelaku industri yang berkaitan dengan pengolahan hasil hutan. FORCLIME mendukung pelaksanaan diskusi dengan pelaku industri tersebut pada tanggal 1 November 2022 di Bogor yang juga dilakukan secara daring.

Pertemuan dibuka oleh Dr. Nur Hygiawati Rahayu, ST, MSc selaku Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air, Bappenas, dan dilanjutkan dengan pemaparan para pakar dari Insitut Teknologi Bandung yang memperkenalkan tujuan dan ruang lingkup kajian. Para narasumber pada pertemuan ini adalah perwakilan dari Perum Perhutani, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia, dan PT Riau Andalan Pulp & Paper.

Beberapa poin penting yang disampaikan oleh para narasumber adalah terkait garis besar kinerja industri pengolahan komoditas-komoditas yang mereka kelola, seperti getah pinus, kayu putih, karet, serta produk-produk turunan yang sedang atau akan dikembangkan. Tantangan besar juga disampaikan oleh para narasumber, seperti kurang bersaingnya hasil produksi dengan bahan baku impor, yang secara ekspor juga kurang kompetitif dibandingkan produk dari negara lain. Khusus untuk karet, 90% dari perkebunan karet didominasi oleh perkebunan rakyat, dan karena kebutuhan yang mendesak, seringkali, petani tidak mau menunggu usia tanam karet yang lama. Hal ini menyebabkan perkebunan menjadi kurang produktif, apalagi harga karet alam yang pada saat ini sangat rendah sehingga petani lebih memilih komoditas lain untuk dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah untuk menjaga kontinuitas produksi dari petani.

Pesan penting untuk ditindaklanjuti dari diskusi adalah pentingnya pengembangan produk turunan untuk menggenjot kembali kinerja industri hasil hutan serta mendukung pengembangan bioekonomi. Selain itu, perlu dilakukan identifikasi akar permasalahan setiap komoditas dari hulu ke hilir dan strategi penyelesaiannya, serta analisis komoditas yang paling menguntungkan dari segi ekonomi dengan pengolahan yang optimal. Klasterisasi produk juga penting untuk dilakukan untuk menentukan potensi pengembangan produk di masing-masing daerah di Indonesia, baik dalam skala kecil maupun skala besar.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Nurdita Rahmadani, Advisor Junior Bidang Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan
Pipin Permadi, Advisor Senior dan Liaison Officer FORCLIME
Wandojo Siswanto, Manajer Strategis untuk Kebijakan Kehutanan dan Perubahan Iklim

in cooperation with ministry of forestry and environment Didukung oleh:
Cooperation - Republic of Indonesia and Federal Republic of GermanyImplemented-by-giz